Ratusan koleksi buku langka milik pejabat seperti Adam Malik sampai Ali Sastroamidjoyo pernah dijual di kios buku langka TB Laras, milik Effendi Simanjuntak aliasl Ucok. Dari aktivis, jurnalis, sastrawan, hingga pengusaha sering berburu buku di tokonya itu
Awalnya Ucok bekerja sebagai age surat kabar di Cengkareng. Pekerjaan ini ia geluti usai sekolahnya pupus pada semester 6. Kesulitan biaya kuliah memaksanya berhenti dari Universitas Kristen Indonesia. Ia lalu bertekun dalam penjualan buku-buku bekas dan langka.
selengkapnya
Datanglah ke lapak-lapak sepanjang Jalan Pintu kecil. Banyak buku-buku tionghoa bekas dilego murah. Dahulu turis asal Taiwan, Hongkong sering membeli di situ
Seorang tua tampak asyik membolakbalik buku cerita silat tionghoa . Lembaran buku kusam dan warna kuning kecoklat-coklatan. Yang mengagetkan buku itu asli berbahasa tionghoa!
selengkapnya
Scott Merrillees, penulis buku Batavia in Nineteenth Century Photographs, kembali melakukan plesiran ke sudut-sudut Batavia. Dari Sunda Kelapa dan berakhir di kuburan Kristen abad 19.
Pukul 07.30, 14 Januari 2007. Kami berkumpul di Parkir Timur Senayan. Antrean pembagian ko-card dan roti buaya nampak dipenuhi para peserta. Hari itu Scott Merrilees, Alwi Sahab, Max De Bruijn, dan Liliek Suratminto, memandu orang-orang muda dari komunitas Sahabat Museum melakukan wisata bertajuk “Plesiran Tempo Doeloe, Batavia in Nineteenth Century”
Selengkapnya
30 August - 02 September 2007 | 10:00-17:00
Metro Broadway,
Jl. Pantai Indah Kapuk Utara II
Kav. N1
T 6805-5851; 0817 084-4517
up to 70% discount
3 books for Rp.10.000
Ahmad Ataka Awwalur Rizky, akrab dipanggil Ataka, 15 tahun, pelajar kelas IX SMP Negeri 5, Yogyakarta, telah menulis lima novel fiksi fantasi. Di Bataviase Nouvelles Cafe, penulis best seller, ini akan bercerita kepada Anda tentang proses kreatifnya dalam menulis novel.
Novel-novelnya yang telah beredar adalah Misteri Pedang Skinheald I - Sang Pembuka Segel (Alenia 2005), Misteri Pembunuhan Penggemar Harry Potter (Liliput 2005), dan Misteri Pedang Skinheald II - Awal Petualangan Besar (Copernican, 2007).
Novelnya yang akan segera terbit: Misteri Pedang Skinheald III - Perang di Bumi Andurin, kisah lanjutan trilogi Skinheald; Kenangan di Bumi Rencong, tentang perjalanan hidup seorang bocah berlatarbelakang tragedi Tsunami di Aceh 2004, dan Bulan Sabit di Langit Parangtritis, berdasarkan peristiwa gempa bumi di Yogyakarta dan Jawa Tengah, Mei 2006.
Berawal dari kebosanan setelah menyelesaikan soal ujian di kelas, Ataka menulis cerita di atas kertas, kemudian disimpannya dengan cara menggulung dan mengikatnya. Menulis pun menjadi kegemarannya. Setiap kali dihinggapi rasa bosan, Ataka pun menulis di lembaran-lembaran kertas yang kemudian digulung dan diikatnya ala penyimpanan surat-surat di masa purba. Semakin lama, gulungan ceritanya pun semakin banyak.
Ia marah besar ketika tumpukan gulungan kertas itu —dikira sampah, dibuang oleh ibunya. Menyadari potensi Ataka, orangtuanya pun membelikannya sebuah komputer.
Ataka menyelesaikan kerangka trilogi Misteri Pedang Skinheald dalam waktu setahun. Buku pertamanya, Sang Pembuka Segel, diselesaikan selama 6 bulan.
Menulis, menurutnya adalah proyeksi dari membaca. Ataka banyak membaca fiksi fantasi dunia, seperti Harry Potter, Lord of The Ring dan komik-komik. “Belakangan ini dia membaca novel Pramoedya Ananta Toer, seperti Bumi Manusia dan Arus Balik,” kata Faiz, sahabat sekaligus editor Ataka. Selama proses penulisan novel, mereka sering mendiskusikannya sembari memancing ikan.
September 2006 lalu, Ataka mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Olimpiade Sains Nasional dan meraih medali perak di bidang fisika. [HASKA]